Kesabaran

Kesabaran Nabi Ayyub yang Menggetarkan Hati

Kesabaran Nabi Ayyub yang Menggetarkan Hati

Nabi Ayyub dikenal sebagai sosok yang hidup dalam kelapangan. Ia memiliki harta yang melimpah, keluarga yang penuh kasih, serta tubuh yang sehat. Hidupnya terlihat sempurna di mata manusia. Namun, Allah menguji beliau dengan ujian yang berat dan panjang.

Satu per satu nikmat itu diambil. Hartanya habis, keluarganya meninggal, dan tubuhnya dilanda penyakit yang sangat parah. Ujian itu tidak berlangsung sebentar, tetapi bertahun-tahun lamanya. Banyak orang menjauh darinya karena penyakit yang dideritanya. Hanya istrinya yang setia mendampingi dengan penuh kesabaran.

Dalam kondisi yang begitu berat, Nabi Ayyub tidak pernah mengeluh kepada manusia. Ia tidak menyalahkan takdir, tidak pula mempertanyakan keputusan Allah. Justru, di tengah sakit dan kesendirian, lisannya tetap basah dengan doa.

Ia hanya berdoa dengan penuh kerendahan hati:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Doa itu singkat, lembut, dan penuh adab. Tidak ada keluhan, hanya pengakuan atas ujian dan keyakinan pada kasih sayang Allah.

Kisah kesabaran Nabi Ayyub diabadikan dalam QS. Al-Anbiya: 83–84:

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’
Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang beribadah.”

Kesabaran

 

Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan iman. Nabi Ayyub tidak hanya bersabar, tetapi juga tetap berdoa dan berharap kepada Allah. Kesabarannya menjadi contoh bahwa ujian sebesar apa pun tidak boleh memutus hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Allah mencintai hamba-hamba yang sabar, karena kesabaran adalah bukti keimanan dan kepercayaan penuh kepada-Nya.

Kisah Nabi Ayyub mengajarkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan. Setiap manusia pasti akan diuji—dengan sakit, kehilangan, kesulitan ekonomi, atau masalah keluarga.

Namun, yang membedakan adalah sikap kita dalam menghadapinya. Apakah kita mengeluh, putus asa, dan menjauh dari Allah? Atau justru semakin dekat, bersabar, dan terus berdoa seperti Nabi Ayyub?

Kesabaran bukan berarti tidak merasakan sakit atau sedih. Kesabaran adalah tetap beriman, tetap berharap, dan tetap berbuat baik meski keadaan terasa berat.

Di sekitar kita, masih banyak orang yang sedang diuji: orang sakit yang tak mampu berobat, keluarga miskin yang kesulitan makan, atau anak-anak yatim yang kehilangan tempat bergantung. Mereka adalah ujian bagi kita—apakah kita akan peduli, atau justru berpaling?

Mari menjadi jawaban atas doa mereka yang sedang diuji.
Bantu saudara-saudara kita yang sedang menghadapi kesulitan dengan berbagi melalui donasi. Sedikit yang kita berikan, bisa menjadi harapan besar bagi kehidupan mereka.

butuh bantuan

Kami di sini untuk membantu Anda

Customer Support

SIGMA Siaga

Online

SIGMA Siaga

ada yang dapat kami bantu 00.00
Scroll to Top