Menjaga Lisan di Tengah Mudahnya Berkomentar
Di era media sosial, seseorang bisa dengan mudah menulis komentar hanya dalam hitungan detik. Seorang pemuda pernah ikut menuliskan komentar kasar karena emosi sesaat. Awalnya ia menganggap itu hal biasa, hingga ia sadar bahwa kata-katanya ternyata menyakiti orang lain.
Sejak saat itu, ia mulai belajar untuk lebih berhati-hati dalam berbicara dan menulis. Ia memahami bahwa lisan bukan hanya apa yang diucapkan, tetapi juga apa yang diketik dan disebarkan.
Allah SWT berfirman:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(QS. Qaf: 18)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah… maka Allah mengangkat derajatnya. Dan ada pula yang mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah… hingga menjerumuskannya ke neraka.”
(HR. Bukhari)
Cara Menjaga Lisan di Era Digital
- Berpikir sebelum berbicara atau berkomentar.
- Menghindari hinaan, fitnah, dan ghibah.
- Tidak mudah terpancing emosi di media sosial.
- Membiasakan berkata baik dan menenangkan.
- Menggunakan lisan untuk menyebarkan manfaat dan kebaikan.
Pelajaran Penting
- Lisan adalah cerminan akhlak seseorang.
- Komentar kecil bisa membawa dampak besar bagi orang lain.
- Islam mengajarkan untuk menjaga ucapan, baik secara langsung maupun digital.
- Diam lebih baik daripada berkata yang menyakiti.
- Menggunakan lisan untuk kebaikan dapat menjadi amal pahala.
Mari gunakan lisan dan tindakan kita untuk menebar manfaat.
Salurkan donasi terbaik Anda untuk membantu yatim dan dhuafa, agar setiap kebaikan yang kita lakukan menjadi amal yang terus mengalir dan membawa keberkahan dalam hidup.




