Antara sibuk mencari pengakuan manusia atau sibuk mencari ridha Allah.
Seorang anak muda begitu sibuk mengejar validasi. Setiap unggahan harus mendapat banyak likes, setiap pencapaian ingin dipuji, dan setiap kebaikan terasa kurang jika tidak diketahui orang lain.
Sampai suatu hari ia bertanya, “Kalau tidak ada yang melihat, apakah aku masih mau melakukan kebaikan?”
Pertanyaan itu membuatnya tersadar. Ia terlalu sibuk mencari penilaian manusia hingga lupa bahwa yang paling penting adalah penilaian Allah.
Sejak saat itu, ia belajar berbuat baik tanpa perlu diketahui siapa pun. Karena ridha Allah jauh lebih berharga daripada tepuk tangan manusia.
Allah SWT berfirman:
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Allah SWT juga mengingatkan:
“Dan janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).”
(QS. Al-Baqarah: 264)
Pelajaran Penting
- Jangan menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama dalam beramal.
- Kebaikan yang dilakukan diam-diam dapat menjadi bentuk keikhlasan.
- Validasi manusia bersifat sementara, sedangkan ridha Allah adalah tujuan akhir.
- Sebelum berbuat, tanyakan pada diri: “Aku melakukan ini untuk siapa?”
Mari belajar mengubah setiap kebaikan menjadi bentuk pengabdian kepada Allah.
Salurkan donasi terbaik melalui Yayasan SIGMA untuk membantu yatim dan dhuafa mendapatkan pendidikan, kebutuhan pokok, dan kehidupan yang lebih layak.
Karena bisa jadi, kebaikan yang tidak diketahui siapa-siapa justru menjadi amal yang paling berarti di hadapan Allah.



