Ada

Yang Kita Anggap Biasa, Bisa Jadi Adalah Nikmat Besar bagi Orang Lain

Yang Kita Anggap Biasa, Bisa Jadi Adalah Nikmat Besar bagi Orang Lain

Setiap hari, kita menjalani hidup seperti biasa. Bangun pagi, mandi, sarapan, bekerja, menggunakan internet, bercanda bersama keluarga, lalu beristirahat dan tidur. Begitu terus, hari demi hari. Karena sudah terbiasa, sering kali kita tidak lagi menyadari betapa berharganya hal-hal sederhana yang kita jalani.

Sampai suatu hari, kita melihat seseorang yang harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkan air bersih. Atau bertemu dengan seorang anak yang begitu ingin sekolah, tetapi harus terhambat karena keterbatasan biaya. Di saat seperti itu, kita mungkin mulai menyadari sesuatu: ternyata, apa yang selama ini kita anggap biasa, bagi orang lain bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Air yang mengalir dari keran. Makanan yang tersedia di meja. Tubuh yang masih sehat dan mampu beraktivitas. Keluarga yang masih bisa ditemui dan dipeluk. Kesempatan untuk belajar, bekerja, dan mencari nafkah. Semuanya terlihat sederhana karena kita terbiasa memilikinya. Padahal, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Belajar Melihat Nikmat yang Sering Kita Lupakan

Allah SWT berfirman:

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. An-Nahl: 18)

Sering kali, kita baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah melihat seseorang yang sedang tidak memilikinya. Dari sana, kita belajar bahwa rasa syukur bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi juga tentang menyadari betapa berharganya apa yang sudah ada dalam kehidupan kita.

Allah SWT juga berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Syukur bukan hanya tentang mendapatkan lebih banyak. Terkadang, syukur dimulai dari belajar menyadari bahwa apa yang sudah ada di hadapan kita pun merupakan karunia yang besar.

Membandingkan untuk Belajar Bersyukur

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar kita melihat orang yang keadaan dunianya berada di bawah kita, bukan terus-menerus melihat kepada mereka yang berada di atas kita. Beliau bersabda:

Beliau bersabda:

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Bukan untuk merasa lebih baik dari orang lain, bukan pula untuk mengabaikan kesulitan mereka. Namun, nasihat tersebut mengajarkan kita untuk lebih menghargai nikmat yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

Cobalah berhenti sejenak dan renungkan. Saat kita masih bisa makan dengan cukup, mungkin ada orang yang sedang menahan lapar. Saat kita masih memiliki tempat tinggal yang nyaman, mungkin ada keluarga yang belum memiliki rumah yang layak.

Kebersamaan dengan keluarga mungkin terasa sederhana bagi kita, tetapi bagi sebagian orang, momen itu adalah sesuatu yang sangat mereka rindukan. Begitu pula dengan kemampuan untuk beraktivitas, mencari nafkah, dan menjalani hari dengan leluasa. Hal-hal yang sering kita jalani tanpa banyak berpikir, bisa menjadi sebuah harapan bagi mereka yang sedang menghadapi keterbatasan.

Semua itu bukan untuk membuat kita merasa lebih beruntung daripada orang lain. Justru sebaliknya, hal tersebut seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa setiap nikmat yang kita miliki adalah amanah dari Allah SWT.

Ada

Syukur Tidak Berhenti pada Ucapan

Kita sering meminta kepada Allah agar diberi sesuatu yang belum kita miliki. Kita berdoa agar rezeki bertambah, pekerjaan menjadi lebih baik, kehidupan menjadi lebih mudah, dan berbagai keinginan lainnya dapat terwujud.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menghitung berapa banyak nikmat yang sudah kita terima, tetapi belum sempat kita syukuri?

Syukur bukan hanya tentang mengucapkan “Alhamdulillah”. Syukur juga berarti menggunakan nikmat yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya.

Karena salah satu bentuk syukur yang indah adalah berbagi apa yang Allah titipkan kepada kita.

Apa yang Biasa bagi Kita, Bisa Menjadi Harapan bagi Orang Lain

Mungkin bagi kita, sebuah paket makanan hanyalah sesuatu yang sederhana. Namun, bagi keluarga yang sedang mengalami kesulitan, paket tersebut bisa berarti makanan untuk hari ini.

Bagi kita, biaya pendidikan mungkin terlihat sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi setiap bulan. Namun bagi seorang anak yatim, bantuan pendidikan bisa menjadi kesempatan untuk tetap bersekolah, belajar, dan mengejar cita-cita.

Apa yang terasa kecil bagi kita, bisa memiliki arti yang begitu besar bagi orang lain.

Karena itu, mari jadikan rasa syukur bukan hanya sebagai ucapan, tetapi juga sebagai tindakan. Mari wujudkan kebaikan bersama Yayasan SIGMA melalui berbagai program sosial untuk membantu yatim dan dhuafa, mulai dari program pangan, pendidikan, santunan, pemberdayaan, hingga berbagai aksi sosial dan kemanusiaan.

Sebab kita tidak pernah tahu, kebaikan sederhana yang kita berikan hari ini mungkin menjadi alasan seseorang kembali memiliki harapan untuk menjalani hari esok.

Apa yang terasa biasa bagi kita, bisa jadi adalah nikmat besar yang sedang sangat diharapkan oleh orang lain.

Mari belajar bersyukur atas apa yang telah Allah titipkan, lalu berbagi sebagian dari nikmat tersebut kepada mereka yang membutuhkan. Karena ketika sebuah nikmat dibagikan, ia tidak hanya menjadi kebahagiaan bagi penerimanya, tetapi juga menjadi bentuk syukur dan kebaikan bagi kita yang memberikannya.

butuh bantuan

Kami di sini untuk membantu Anda

Customer Support

SIGMA Siaga

Online

SIGMA Siaga

ada yang dapat kami bantu 00.00