Adab

Adab Berpuasa Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hari

Adab Berpuasa Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hari

Seorang mahasiswa bersemangat menjalankan puasa sunnah setiap Senin dan Kamis. Ia bangun pagi, menahan lapar, dan berusaha tidak makan hingga waktu berbuka tiba. Baginya, puasa sunnah adalah bentuk ketaatan yang ingin ia jaga secara rutin.Adab

Namun, tanpa ia sadari, sikapnya justru berubah ketika sedang berpuasa. Ia menjadi lebih mudah marah, cepat tersinggung, dan sering mengeluh karena merasa lelah. Ketika teman-temannya mengajak berbincang, ia menjawab dengan nada kurang ramah. Bahkan, hal-hal kecil terasa lebih menjengkelkan daripada biasanya.

Suatu hari, ia menghadiri sebuah kajian di masjid kampus. Dalam kajian itu, ustaz menjelaskan tentang adab berpuasa. Ia mendengar bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan lisan, emosi, dan sikap buruk. Puasa seharusnya membuat seseorang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Allah.

Kata-kata itu terasa menampar hatinya. Ia pun menyadari bahwa selama ini ia hanya menahan lapar, tetapi belum benar-benar menjaga akhlaknya saat berpuasa.

Sejak saat itu, ia mulai berusaha memperbaiki diri. Ia menahan diri dari keluhan, menjaga perkataan, dan berusaha tersenyum kepada orang-orang di sekitarnya. Perlahan, ia merasakan ketenangan yang berbeda. Puasa sunnahnya tidak lagi terasa berat, justru menjadi momen untuk menata hati dan memperindah akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan kotor.”
(HR. Ibnu Khuzaimah)

Hadits ini mengajarkan bahwa puasa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi juga latihan akhlak. Menjaga lisan, menahan emosi, serta memperbanyak amal kebaikan adalah bagian dari kesempurnaan puasa, baik puasa wajib maupun sunnah.

Puasa yang dijalankan dengan adab yang baik akan membentuk pribadi yang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih peduli terhadap sesama.

Sering kali kita merasa sudah berpuasa, tetapi hati masih dipenuhi keluhan, lisan masih mudah menyakiti, dan emosi masih sulit dikendalikan. Padahal, tujuan puasa adalah melatih kesabaran dan memperbaiki akhlak.

Puasa sunnah, seperti Senin-Kamis, sebenarnya adalah kesempatan rutin untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri. Setiap rasa lapar seharusnya mengingatkan kita pada orang-orang yang kekurangan. Setiap keinginan untuk marah seharusnya menjadi latihan untuk bersabar.

Ketika puasa diiringi dengan akhlak yang baik, ibadah terasa lebih ringan dan hati menjadi lebih tenang.

Sempurnakan puasa sunnah dengan amal yang bermanfaat bagi sesama.
Salurkan sedekah terbaik Anda untuk membantu yatim dan dhuafa, agar pahala kebaikan terus mengalir.

butuh bantuan

Kami di sini untuk membantu Anda

Customer Support

SIGMA Siaga

Online

SIGMA Siaga

ada yang dapat kami bantu 00.00
Scroll to Top