Masjidil

Masjidil Haram: Jejak Ibadah Para Nabi di Tanah Suci

Masjidil Haram: Jejak Ibadah Para Nabi di Tanah Suci

Masjidil

Di tengah hamparan padang pasir yang gersang, jauh sebelum kota Makkah ramai oleh manusia, berdirilah sebuah bangunan sederhana yang kelak menjadi pusat ibadah umat Islam sedunia. Bangunan itu bukan istana, bukan pula tempat kekuasaan, melainkan rumah ibadah yang dibangun dengan ketaatan dan air mata penghambaan.

Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS, mengangkat batu demi batu untuk membangun Ka’bah. Tidak ada kemegahan, tidak ada sorotan manusia. Hanya ada keringat, doa, dan keikhlasan.

Setiap batu yang disusun bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol penghambaan kepada Allah. Dalam proses pembangunan itu, keduanya berdoa dengan penuh kerendahan hati:

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan ini). Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ka’bah yang mereka bangun itu kemudian menjadi pusat ibadah bagi umat manusia. Dari generasi ke generasi, manusia datang dari berbagai penjuru dunia. Mereka mengenakan pakaian yang sama, berdiri di tempat yang sama, dan menghadap ke arah yang sama sebuah simbol persatuan dalam ibadah.

Keutamaan Ka’bah dan Masjidil Haram disebutkan dalam QS. Ali Imran: 96:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

Ayat ini menegaskan bahwa Ka’bah adalah rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia. Ia bukan sekadar bangunan, tetapi pusat spiritual yang membawa keberkahan dan petunjuk.

Masjidil Haram menjadi saksi sejarah ibadah para nabi, doa para hamba, serta tangisan taubat manusia dari berbagai zaman. Setiap sudutnya menyimpan jejak penghambaan yang tak terhitung jumlahnya.

Masjidil Haram mengajarkan kita bahwa rumah Allah dibangun dengan keikhlasan, bukan kemewahan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangunnya dengan tangan mereka sendiri, disertai doa agar amal itu diterima.

Dari kisah itu, kita belajar bahwa memakmurkan masjid adalah bagian dari ibadah. Tidak semua orang bisa pergi ke Tanah Suci, tetapi setiap orang bisa berkontribusi dalam memakmurkan rumah-rumah Allah di sekitarnya.

Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial. Dari masjid, lahir generasi berilmu, masyarakat yang saling peduli, dan lingkungan yang penuh kebaikan.

🤲 Mari ikut memakmurkan rumah-rumah Allah.
Salurkan sedekah terbaik Anda untuk pembangunan, perawatan, dan kegiatan masjid. Setiap rupiah yang Anda berikan bisa menjadi bagian dari pahala yang terus mengalir, sebagaimana jejak ibadah para nabi di Tanah Suci.

butuh bantuan

Kami di sini untuk membantu Anda

Customer Support

SIGMA Siaga

Online

SIGMA Siaga

ada yang dapat kami bantu 00.00
Scroll to Top