Puasa bagi Orang Sakit dan Musafir: Rukhshah yang Penuh Rahmat
Seorang ayah sedang menempuh perjalanan jauh untuk urusan pekerjaan. Tubuhnya terasa lelah, kepalanya sedikit pusing, dan kondisi kesehatannya tidak terlalu baik. Namun, hatinya diliputi kebimbangan. Ia ingin tetap berpuasa karena takut berdosa jika berbuka di siang hari Ramadhan.
Sesampainya di tujuan, ia menyempatkan diri bertanya kepada seorang ustaz. Dengan senyum hangat, sang ustaz menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan kemudahan. Orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan jauh diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain.
Mendengar penjelasan itu, hati sang ayah terasa tenang. Ia pun mengambil keringanan tersebut dengan penuh rasa syukur, karena ia sadar bahwa rukhshah itu bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Allah SWT berfirman:
“…Barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak bertujuan memberatkan umatnya. Justru, Allah memberikan solusi bagi mereka yang berada dalam kondisi sulit.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah menyukai jika keringanan-Nya diambil sebagaimana Dia membenci jika kemaksiatan dilakukan.”
(HR. Ahmad)
Hadits ini menunjukkan bahwa mengambil keringanan dalam kondisi yang dibolehkan bukanlah kesalahan, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah.
Ketentuan puasa bagi orang sakit dan musafir:
-
Orang sakit yang khawatir penyakitnya bertambah parah boleh tidak berpuasa.
-
Musafir dengan perjalanan jauh diperbolehkan berbuka.
-
Wajib mengganti (qadha) puasa di hari lain setelah kondisi membaik atau perjalanan selesai.
-
Jika sakit menahun dan tidak mampu berpuasa, maka wajib membayar fidyah.
-
Niat tetap menjaga ketaatan, meski mengambil keringanan.
-
Islam tidak mempersulit, tetapi memberi solusi penuh hikmah.
Keringanan dalam Islam adalah bukti bahwa Allah memahami kondisi hamba-Nya. Tidak semua orang memiliki kekuatan fisik yang sama. Ada yang sedang sakit, ada yang dalam perjalanan, dan ada yang menghadapi kesulitan tertentu.
Rukhshah bukanlah celah untuk bermalas-malasan, tetapi bentuk kasih sayang yang harus disyukuri. Dengan mengambil keringanan sesuai syariat, seorang hamba justru menunjukkan ketaatannya kepada Allah.
Ramadhan mengajarkan kita bahwa ibadah tidak selalu tentang menahan diri, tetapi juga tentang memahami hikmah di balik setiap perintah dan keringanan. Allah tidak ingin hamba-Nya tersiksa, melainkan ingin mereka mendekat dengan hati yang lapang.
Sebagaimana Allah memberi kemudahan bagi yang sakit dan musafir, mari kita hadirkan kemudahan bagi mereka yang membutuhkan.
Salurkan donasi terbaik Anda untuk membantu yatim, dhuafa, dan saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Setiap sedekah yang Anda berikan di bulan Ramadhan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya, insyaAllah.



