Bagi-Bagi THR Saat Idul Fitri? Wajibkah?

Selain opor ayam, THR merupakan sesuatu yang wajib hadir dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia. THR digadang-gadang dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi kebanyakan orang. Namun, bagaimana hukum THR dalam islam? Yuk, kita simak penjelasan di bawah ini. 

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita mengetahui sejarah THR terlebih dahulu. Budaya THR muncul pertama kali pada tahun 1994 dengan didasarkan pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor Per-04/Men/1994. Peraturan tersebut berisi mengenai Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi para pegawai di perusahaan. Inilah yang membuat setiap pegawai berhak mendapat THR dari perusahaannya. 

Jika ditelaah dari segi islam, THR dapat disamakan dengan menerima hadiah. Sehingga diperbolehkan atau sah-sah saja menurut hukum islam sebab tunjangan tersebut merupakan hak bagi penerima. Hamidulloh Ibda, seorang senior di Centre dor Democracy and Islamic Studies (CDIS) menyampaikan, “Menerima THR itu boleh, karena prinsip THR itu seperti gaji, diberikan ketika kinerja kita sudah benar. Yang salah adalah ketika THR diberikan kepada pekerja yang malas atau tidak produktif, serta tidak berkontribusi secara aktif di perusahaannya, namun menuntut THR dengan demo dan lain sebagainya.”

THR dipercaya dapat menjadi pemicu agar para pegawai semakin semangat dalam bekerja. Hal tersebut didukung dengan ajaran agama Islam yang menganjurkan memberikan upah kepada karyawan sebelum keringat mereka kering. Artinya, THR harus diberikan sebelum hari raya tiba. 

Intinya, jika THR diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras seseorang, maka hukumnya sah-sah saja. Selain itu, untuk mendapatkan THR tentunya para pekerja juga harus bersemangat dalam menjalankan pekerjaan, jangan hanya menuntut uangnya saja. 

Terdapat beberapa hadits yang cukup berhubungan dengan budaya tunjangan hari raya ini. Berikut haditsnya: 

وعَنْ أبي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ صَخْرٍ t قاَلَ: قَالَ رَسُول اللَّه : ((إِنَّ اللَّهَ تَعَالىَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وأَعْمَالِكُمْ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian tetapi Allah memandang kepada hati dan amal kalian’.” [HR. Muslim No. 2564]

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ‌ الرَّ‌ازِقِينَ …

“… Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” [Qs. Saba’: 39]

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya seseorang  akan mendapatkan apa yang ia niatkan, jika ia berniat hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan siapa yang hijrah karena dunia (harta, dan lain-lain …) atau karena wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya untuk apa yang ia niatkan” Muttafaq ’alaih. [HR. Bukhari No: 54 dan Muslim No: 1907]

butuh bantuan

Kami di sini untuk membantu Anda

Customer Support

Sigma Siaga

Online

Sigma Siaga

ada yang dapat kami bantu 00.00
Scroll to Top