Membersihkan Hati Sebelum Ramadhan: Apa yang Harus Ditinggalkan?
Menjelang Ramadhan, hati seharusnya terasa ringan. Namun bagi sebagian dari kita, justru sebaliknya. Ada lelah yang tak kasat mata dendam yang belum tuntas, iri yang tak disadari, dan kelalaian yang perlahan menumpuk. Hati terasa berat, seolah ingin melangkah menuju Ramadhan, tetapi ada beban yang belum dilepaskan.
Padahal, Ramadhan adalah tamu mulia. Ia lebih layak disambut dengan hati yang bersih daripada tubuh yang sekadar kuat menahan lapar.
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Asy-Syams: 9–10:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa keberuntungan sejati bukan terletak pada banyaknya amal lahiriah, tetapi pada jiwa yang disucikan. Menjelang Ramadhan, ada beberapa hal yang patut kita tinggalkan:
-
Dendam dan kebencian, yang mengeraskan hati dan menghalangi doa,
-
Iri dan dengki, yang menggerogoti rasa syukur,
-
Kelalaian dari dzikir, yang menjauhkan kita dari ketenangan batin.
Membersihkan hati berarti berani memaafkan, merendahkan ego, dan kembali pada kesadaran bahwa kita semua adalah hamba yang membutuhkan ampunan Allah.
Tidak semua luka harus diingat. Tidak semua kesalahan harus disimpan. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk meletakkan beban yang tak perlu agar ibadah tidak sekadar rutinitas, tetapi benar-benar menghadirkan ketenangan.

Hati yang dibersihkan akan lebih mudah menerima cahaya Ramadhan.
Mari sempurnakan proses pembersihan hati dengan berbagi dan peduli kepada sesama. Bersama Yayasan Sigma, jadikan sedekah sebagai cara melembutkan hati dan membuka jalan menuju Ramadhan yang lebih bermakna.



